Refleksi Hari Pahlawan: Pengorbanan dalam Gempuran Kapitalisme

Oleh: Raidah Intizar

(Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Makassar, Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin)

Kita masih sering mendengar bagaimana dahulu pahlawan adalah mereka yang mengangkat senjata dalam pertempuran atau tokoh-tokoh sejarah yang terhormat, kisahnya selalu sama –yakni mengenai bagaimana mereka berkorban, mempertaruhkan hidupnya untuk orang lain dan tujuan yang lebih besar. Namun di tengah derasnya arus kapitalisme yang mendera dunia saat ini, istilah “pahlawan dan pengorbanan” menjadi konsep yang kian asing.

Kapitalisme telah menjadi sebuah dominasi baru yang mementingkan economic growth atau pertumbuhan ekonomi di atas segalanya. Segala sesuatu harus dikalkukasi, time is money. Selama ratusan tahun pasca pertama kalinya semboyan “liberte, egalite, fraternite” muncul, kini semboyan itu tereduksi hingga hanya pada liberte, kebebasan adalah segalanya, dan penunggang ideologi liberalisme menitikberatkan ideologinya pada pada kebebasan ekonomi. Egalite atau equality –sebuah konsep yang mengangkat ide pemerataan dan kesetaraan, dan fraternite atau konsep yang mengangkat pentingnya solidaritas dan persaudaraan, perlahan hilang dari kamus liberalisme. Keduanya adalah konsep abstrak yang tidak dapat dikalkukasikan, kebebasan dalam ekonomi sebaliknya, mendatangkan materi yang dapat dilihat pertumbuhannya, dan semakin banyak materi, semakin nyaman hidup (fisik) manusia.

Padahal manusia  terdiri dari jiwa dan raga. Jiwa manusia adalah sebuah hal yang abstrak dan tidak nampak, raga sebaliknya nampak dan cukup jelas mengenai apa yang ia butuhkan. Ketika jiwa kita meninggalkan raga, raga tinggallah sebatas selongsong kosong. Namun, dalam rangka memenuhi kebutuhan raga, manusia menjual jiwanya kepada kapitalisme, konsumerisme yang tidak ada ujungnya.

Hal ini mengingatkan saya pada ucapan Hoja saya, Zeynep Burcu Ugur, “Di saat kita berpuasa atau sengaja membuat tubuh kita kelaparan, pada hakikatnya kita sedang memberi makan jiwa kita, sebaliknya ketika kita makan dengan rakusnya, saat itu jiwa kita kelaparan.” Kemungkinan dia mengutip itu dari buku Said Nursi. Namun jelas maksudnya adalah, jiwa manusia perlu berkorban, dengan itulah jiwanya akan merasa puas.

Maka saya hanya dapat membayangkan, betapa kayanya jiwa-jiwa pahlawan kita dahulu, yang senantiasa rela berkorban, rela kelaparan, rela diasingkan demi sebuah perjuangan. Ia dengan sengaja “mengorupsi” fisiknya sendiri demi kebaikan yang lebih besar. Akhirnya orang tiba pada fase di mana semua hal yang abstrak menjadi asing. Seperti sabda Rasulullah “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Sementara fondasi dari agama kita adalah meyakini hal yang gaib, hal-hal yang sifatnya abstrak (QS. 3:2). Beberapa hal yang abstrak itu mencakup konsep yang paling urgen dalam hidup kita: ketuhanan.

Untuk mampu berkorban, manusia harus mempercayai adanya Tuhan, hal yang tidak mampu manusia observasi melalui panca inderanya. Dan untuk itu, manusia akan menghadapi banyak kritik dan cibiran dari mereka yang telah larut dalam matematika kapitalistik. Bagaikan menggenggam bara api yang membakar telapak tangan kita sendiri. Jikapun orang-orang yang mau berkorban itu semakin sedikit, semoga kita tergabung ke dalam orang-orang yang sedikit itu.

Maros, 10 November 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *